Metode (Minhaj ) Al-Firqah An-Najiyah adalah metode yang ditempuh oleh Al-Firqah An-Najiyah / Ahlu Sunnah Wal jama’ah dalam mengamalkan dinul Islam sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan para Sahabat رضي الله عنهم

1.   Al-Firqah an-Najiyah adalah golongan yang komitmen dengan minhaj Rasulصَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  semasa hidupnya dan minhaj para sahabat  رضي الله عنهم   sepeninggalnya. Yaitu al Qur’an yang Allah turunkan kepada RasulNya dan beliau jelaskan kepada para sahabatnya. Beliau bersabda :

” Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat sesudahnya :Kitabullah dan Sunnahku. Keduanya tidak akan terpisah hingga keduanya masuk telagaku.”

2.   Al-Firqah an-Najiyah kembali kepada firman Allah dan sabda rasulNya ketika bersengketa dan berselisih, karena mengamalkan firmanNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya

(QS. An-Nisa : 59)

Allah berfirman

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya

(QS. An-Nisa : 65)

3.   Al-Firqah an-Najiyah tidak mendahulukan ucapan siapa pun dibandingkan ucapan Allah dan RasulNya, karena mengamalkan firmanNya:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

(QS Al-Hujurat : 1)

Ibnu Abbas berkata, “Hampir saja mereka akan dibinasakan! Aku mengatakan Rasulullah صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ telah bersabda begini, tapi mereka justru mengatakan Abu Bakar dan Umar berkata begini.” (HR. Ahmad).

4.   Al-Firqah an-Najiyah menilai tauhid yaitu mengesakan Allah dengan peribadatan seperti doa, isti’anah (memohon pertolongan),istighatsah (memohon bantuan),menyembelih, nadzar, tawakal, berhukum kepada apa yang diturunkan Allah, dan berbagai jenis peribadatan lainnya sebagai fundamen untuk membangun Daulah Islamiyah yang benar.

5.   Al-Firqah an-Najiyah menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dalam peribadatan, perilaku dan kehidupan mereka, sehingga mereka kelihatan asing di tengah kaum mereka, sebagaimana sabda Rasulullah صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Sesungguhnya Islam mula-mula datang dalam keadaan asing,dan akan kembali dalam keadaan asing sebagaimana mula-mula datang. Beruntunglah orang-orang yang kelihatan Asing itu” (HR. Muslim)

6.   Al-Firqah an-Najiyah tidak fanatik kecuali kepada kalam Allah dan sabda RasulNya yang ma’shum yang tidak berkata-kata  dengan hawa nafsunya. Adapun manusia selainnya meskipun tinggi kedudukannya.

Imam Malik berkata, “Tidak ada seorang pun sesudah Rasulullah صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melainkan ucapannya bisa diambil dan bisa ditinggalkan, kecuali Nabi SAW

7.   Al-Firqah an-Najiyah adalah Ahlul Hadits yang disinyalir oleh Rasulullah صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Akan senantiasa ada golongan dari umatku yang membela kebenaran, mereka tidak menghiraukan orang yang menghinakan mereka hingga tiba urusan Allah (Kiamat).” (HR Muslim)

8.   Al-Firqah an-Najiyah menghormati para imam mujtahidin dan tidak fanatik kepada salah seorang dari mereka. ini sejalan dengan pernyataan para imam itu sendiri karena mereka berpesan kepada para pengikut mereka supaya berpegang dengan hadits shahih dan meninggalkan semua pendapat yang menyelisihinya.

9.   Al-Firqah an-Najiyah menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka mengingkari tarekat-tarekat bid’ah dan golongan-golongan perusak yang memecah belah umat, mengada-adakan bid’ah dalam agama, serta jauh dari Sunnah Rasulullah صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan para sahabat beliau

10.  Al-Firqah an-Najiyah menyerukan kaum muslimin agar berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan para sahabat beliau sehingga mereka mendapatkan kemenangan, dan mereka masuk ke dalam surga berkat karunia Allah dan syafa’at RasulNya.

11.  Al-Firqah an-Najiyah mengingkari undang-undang buatan manusia, karena bertentangan dengan hukum Islam, dan menyeruhkan supaya berhukum kepada Kitabullah yang diturunkan Allah

12.  Al-Firqah an-Najiyah menyeru kaum muslimin untuk berjihad di jalan Allah. Jihad wajib bagi setiap muslim sesuai dengan kesanggupan dan kemampuannya.

Tanda-tanda Tukang Sihir

Posted: 27 Januari 2013 in Tak terkategori

Tanda-tanda Tukang Sihir

Tukang sihir mempunyai banyak tanda diantaranya
1. Bertanya kepada pasiennya tentang namanya dan nama ibunya.
2. Meminta hewan dengan kriteria tertentu
3. Meminta darah dari hewan yang disembelih dengan tanpa menyebut nama Allah,mengoleskan darah pada bagian-bagian yang sakit dan membuang sesembelihan pada tempat tertentu
4. Meminta bekas dari orang yang datang padanya seperti baju,kuku atau rambut
5. Menulis mantra-mantra simbol-simbol
6. Memberikan jimat pada pasien
7. Memberikan pasien barang-barang untuk ditanam dalam tanah
8. Memberi paisen dupa untuk dibakar pada waktu matahari terbenam atau waktu istirahat siang.
9. Membaca Telapak Tangan
10. Menuang Timah
11. Memberikan cincin yang diukir dengan mantra
12. Menampakan simbol-simbol pengobatan seperti obat-obatan tradisional untuk menipu orang awam
13. Menyuruh agar pasien menggantung manik-manik
14. Menulis Al-Qur’an dengan barang-barang najis dan darah haid,menuliskan sebagian ucapan-ucapan syirik
15. Meminta benda-benda aneh yang sulit untuk dipenuhi pasiennya. Jika pasien tidak mampu mendatangkannya tukang sihir akan meminta sejumlah besar uang dari pasienya untuk mendapatkannya dengan bantuan jin misal meminta satu tikus yatim

 

Adakah Bid’ah Hasanah/ yang Baik ???

Mereka yang mengatakan ada bid’ah yang baik tidak mempunyai dalil selain perkataan Umar mengenai shalat tarawih berjamaah. Mereka yang mengatakan ada beberapa hal baru yang dibiarkan dan tidak diingkari oleh para Shahabat.Seperti pengumpulan Al-Qur’an menjadi satu kitab dan Penulisan Hadits. Jawaban mengenai masalah ini ialah perkara-perkara tersebut memiliki landasan dalil dalam agama,perkataan Umar,”Inilah Bid’ah yang baik”. Yang ia maksud adalah bid’ah secara bahasa,bukan syar’i.Sebab secara Syar’i bermakna sesuatu yang tak memiliki landasan syar’i bermakna sesuatu yang tidak memiliki landasan syar’i sebagai rujukan.

Pengumpulan Al Qur’an menjadi satu kitab memiliki dasar pensyariatan.Sebab Nabi pernah memerintahkan agar Al-Qur’an di tulis.Hanya saja penulisan dilakukan secara terpisah selanjutnya untuk menjaga agar tidak hilang lantas para sahabat menghimpunnya dalam satu Mushaf.

Masalah Shalat tarawih Nabi pernah melaksanakannya secara berjamaah para sahabat tapi pada akhirnya beliau kemudian tidak melasanakannya karena kawatir shalat tarawih diwajibkan atas mereka.Sementara para sahabat masih terus melaksanakannya baik secara berjamaah atau sendiri hingga kemudian Umar mengumpulkan mereka dalam satu imam sebagai mana yang pernah dilakukan dimasa nabi.

Penulisan hadits juga memiliki landasan syar’i. Nabi pernah menyuruh menuliskan sebagian hadits untuk beberapa orang sahabat bila beliau diminta.Larangan menulis hadits secara keseluruhan dimasa nabi karena beliau kawatir kalau hadits yang ditulis bercampur dengan Al-Qur’an.karena Al-Qur’an telah diturunkan secara sempurna dan dikoreksi sebelum nabi wafat,setelah itu agar agar hadits tidak hilang maka dilakukan penulisan juga.

Berbagai Bid’ah muncul di berbagai negara Islam.Ibnu Taimiyah berkata Daerah-daerah besar yang ditempati oleh para sahabat dan menjadi sumber ilmu dan iman ada 5 : Mekkah, Madinah, Kufah, Bashrah dan Syam. Dari sana tersebar Al-Qur’anAl Hadits,Fiqih,Ibadah, dan perkara-perkara Islam lainnya. Tapi disana  juga muncul berbagai Bid’ah dalam Aqidah kecuali Mekkah dan Madinah.

 *     Dari Kufah muncul bid’ah Syi’ah dan Murji’ah.

*     Dari Bashrah muncul bid’ah dalam masalah takdir,Mu’tazilah dan praktik ibadah yang rusak. Lalu bid’ah-bid’ah itu tersebar di          bebrbagai kawasan

*    Dari Syam muncul bid’ah Nushb dan bid’ah dalam masalah takdir

*    Dari Khurasan muncul bid’ah Jahmiyah

 dan saat terbunuhnya Khalifah Utsman munculah bid’ah Harruriyah. Adapun Mekkah  dan Madinah selamat dari munculnya berbagai bid’ah,walaupun ada orang yang melakukannya secara sembunyi-sembunyi.Berbeda dengan Syiah dan Murjiah yang terjadi di kufah Mu’tazilah di Basrah dan Nushb di Syam dimana berbagai bid’ah tersebut sangat kuat

KEPERCAYAAN TENTANG NUR MUHAMMAD

Mustahil bagi kita untuk memahami apa yang dimaksud oleh orang tasawwuf dengan ucapan mereka tentang “Hakikat Muhammadiy­yah” atau “Nur Muhammad”, kecuali dengan mengetahui aqidah mere­ka. Mereka berbeda-beda dalam ucapannya. Kadang mereka katakan Dia itu ruh yang berjalan di dalam hal-hal yang wujud, dan mereka menyerupakan ini dengan dua hal yang berjalan bahwa Dia itu seperti aroma bunga dalam bunga, dan adanya roh dalam jasad yang hidup.Dan kadang-kadang mereka mengatakan, nafsu wujudil maujudat (adanya makhluk itu sendiri) ialah wujud Allah. Maka tidak ada dua dalam wujud, pencipta dan makhluk, tetapi makhluk itu sendiri adalah pencipta itu. Dan pencipta itu sendiri adalah makhluk itu.

Kepercayaan batil yang demikian itu disebarkan kepada manusia oleh penggede-penggede tasawwuf dari ahli zindiq dan mulhid (murtad) seperti Ibnu ‘Arabi, Al-Hallaj, Al-Jili, Ibnu Sab’ien, dan orang-orang yang model mereka. Orang-orang sufi itu dalam kitab-kitab mereka mengingkari orang yang bersaksi bahwa Allah Ta’ala itu adalah Tuhan yang Berdiri dengan SendiriNya Yang Maha Sempurna di atas Arsy yang Dia bangun. Dan itulah yang menjadi keyakinan ummat Islam tentang Tuhan SWT. (Al-Fikrus Shufi, hal 175).

Ibnu ‘Arabi dalam kitabnya, At-Tajalliyyaat, mengaku bahwa ia bertemu dengan tokoh-tokoh tasawwuf terdahulu dalam Barzakh (kubur) dan mendiskusikan/ membantah kepada mereka dalam hal aqidah Tauhid mereka (Yaitu Allah di atas Arsy dan mencipta makhluk), dan Ibnu Arabi menjelaskan, menyalahkan dan memberitahukan kepada mereka pada puncaknya bahwa laa maujud illallaah, (tidak ada yang wujud kecuali Allah), wa annallaaha wal ‘abda syai’un waahid, (dan sesungguhnya Allah dan hamba itu adalah sesuatu yang satu). Dan mereka semuanya mengakui itu, semua itu ada di kitab At-Tajalliyyaat. (Al-Fikrus Shufi, hal 176).

Yang penting, orang-orang tasawwuf itu menukil/ mengutip kepercayaan wihdatul wujud (manunggaling kawula Gusti, bersatunya makhluk dengan Tuhan) dari filsafat Platonisme, dan mereka mem­percayai dan menjadikannya sebagai hakekat sufisme dan sirril asror (rahasianya rahasia), dan itulah aqidah pengikut Islam menurut pengakuan mereka.

Orang-orang Sufi menukil pendapat para filosof dalam teori mereka mengenai awal penciptaan. Para filosof kuno mengatakan “bahwa awal penciptaam itu adalah haba’/ debu (atom), dan perta­ma-tama yang wujud itu adalah “akal awal” yang dinamakan “akal kreator” (akal fa’aal). Dan dari “akal awal” ini tumbuh alam atas, langit-langit dan bintang-bintang, kemudian alam bawah… dst. (Al-Fikrus Shufi, hal 176).

Teori filsafat kuno ini kemudian pada masa Ibnu Arabi (abad 13 M) ia nukil sendiri ke pemikiran sufi tetapi diganti nama, “akal fa”aal” yang disebutkan filosof kuno itu ia sebut “Haqiqat Muhammadiyyah” (Hakekat Muhammad). Maka sangkaan filosof bahwa awal kejadian itu adalah haba’/ debu (atom) –ucapan filosof sendiri– lalu Ibnu ‘Arabi menyebutnya awal kejadian itu adalah “hakekat Muhammad”, dan menurut ungkapan Ibnu Arabi, awal ta’yi­naat (awal kejadian yang dibentuk dari atom). Ibnu Arabi berpan­jang kalam dalam hal ini, dan ia mengatakan bahwa “Hakekat Muham­madi” ini lah yang bersemayam di atas arsy Tuhan. Dan dari nur (cahaya) dzat inilah Allah menciptakan makhluk semuanya setelah itu. Maka malaikat, langit, dan bumi semuanya itu diciptakan dari Nur Dzat yang pertama, yaitu Dzat Muhammadi, menurut Ibnu Arabi, dan “aqal fa”aal” menurut pemikiran falsafi.

Demikianlah, Ibnu Arabi mampu memindahkan barang murahan dan khayalan filsafat yang sakit, ke dunia Muslimin dan ke aqidah ummat Islam. Bahkan Ibnu Arabi menjadikan aqidah ilhadiyah (murtad, anti Tuhan) sebagai aqidah asasi/ pokok dasar yang untuk tempat berdirinya pemikiran sufi seluruhnya setelah itu.

Dari rekayasa sufi mulhid (murtad) itulah maka kita tahu apa yang dimaksud oleh orang sufi falsafi tentang wihdatul wujud, bahwa menurut mereka Allah bukanlah Dzat yang nanti dilihat oleh orang-orang Mu’min di akherat dan bersemayam di atas Arsy. Tetapi Allah menurut mereka hanyalah wujud (alam) ini sendiri dengan seluruh tingkatan dan pertentangannya. Maka Allah menurut mereka adalah adanya wujud malaikat, syetan, manusia, jin, hewan, dan tumbuh-tumbuhan.

Pengarang Al-Fikrus Shufi berkomentar, apabila kita telah tahu hakekat teori falsafah kafir yang dipindahkan oleh orang tasawwuf mulhid (murtad) ke Islam ini maka kita tahu setelah itu, apa yang dimaksud orang sufi tentang perkataan mereka mengenai ” Hakekat Muhammadi” yang bersemayam di Arsy, dan menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai makhluk pertama sebelum adanya alam seluruhnya. Dan dialah yang bersemayam di atas Arsy. Dan dari Nur Muham­mad SAW itu Allah menciptakan seluruh alam, setelah itu, yaitu langit-langit, bumi, malaikat, manusia, jin, dan seluruh makhluk. Maka ” Hakekat Muhammadi”, menurut tuduhan mereka adalah bentuk sempurna yang baru bagi Dzat Tuhan yang tidak terlihat dengan dzatnya dan tidak terpisahkan dari wujud ini… Maka Nabi Muham­mad SAW menurut Ibnu Arabi dan syaikh-syaikh tasawwuf yang datang setelahnya, dialah Allah yang Mutajalli di atas Arsy, atau –katakanlah– dia (Muhammad SAW) itu Allah yang dikecilkan (dalam bentuk kecil). Dan kepada dialah, kejadian segala makhluk yang ada ini bertumpu padanya, dan segala cahaya terbelah dari­nya, dan segala alam, dan segala yang ada…

Dan Muhammad SAW itulah biji pertama bagi seluruh yang ada, maka dia seperti biji bagi pohon, dari biji itulah kemudian ada pokok, cabang, daun, buah, dan duri-duri. Maka demikian pula permulaan yang ada itu dengan adanya Muhammad SAW kemudian dari nurnya (Nur Muhammad) itu diciptakan Arsy, kursi, langit-langit, bumi, Adam dan keturunannya, dan cabang-cabang makhluk dan sete­lah itu berangsur-angsur adanya makhluk-makhluk yang diciptakan dari Nur Nabi Muhammad SAW. Maka semua yang ada ini menurut aqidah tasawwuf adalah sesuatu yang satu yang bercabang-cabang dari asal yang satu, atau katakanlah pohon yang satu yang berca­bang-cabang dari biji yang satu. (Al-Fikrus Shufi, hal 178).

Dari berbagai uraian itu bisa disimpulkan, kepercayaan sufisme mengenai Nabi Muhammad SAW ada tiga tingkatan:

1. Orang-orang yang berpendapat dengan wihdatil wujud, menganggap bahwa Allah adalah dzat alam yang ada (dzatul maujudat), maka mereka menjadikan Rasul sebagai makhluk pertama. Lalu dari dia (Rasul) lah muncul makhluk semuanya, dan dia (Rasul) itulah tuhan yang bersemayam di atas Arasy. Inilah kepercayaan Ibnu Arabi dan orang-orang model dia (yang telah dikafirkan banyak ulama).

2. Orang-orang yang mengatakan bahwa Nur Muhammad adalah awal yang ada secara benar-benar (fi’lan), dan darinyalah terbelah cahaya-cahaya dan diciptakan makhluk semuanya. Tetapi mereka tidak mengatakan bahwa dzat rasul bersemayam di atas Arsy.

3. Orang-orang yang mengatakan bahwa Nur Muhammad adalah awal yang ada dan dialah yang paling mulia-mulianya makhluk, dan karena dialah Allah menciptakan alam seluruhnya, tanpa mereka jelaskan bahwa alam-alam telah dibuat dari nurnya, mereka hanya­lah mengatakan diciptakan alam ini karena Nur Muhammad. (Al-Fikrus Shufi, hal 180-181).

Walaupun demikian (amburadulnya), namun orang tasawwuf dapat menjadikan kepercayaan (sesat dan syirik) ini menjadi akidah orang awam dan kebanyakan kaum Muslimin. Yang demikian itu karena dibuat ungkapan-ungkapan yang mudah, dan dalam syair yang mudah diucapkan dengan cepat seperti ucapan mereka:

“Laulaaka laulaaka maa kholaqtul aflaak!! (Seandainya tidak karena kamu (Muhammad), seandainya tidak karena kamu (Muhammad) pasti Aku tidak menciptakan planet-planet/ alam ini). (Al-Fikrus Shufi, hal 192).

Para muballigh di Indonesia, terutama orang sufi, banyak yang mempidatokan bahkan mengkhutbahkan hadits palsu (laulaaka…) tersebut, dengan mereka sebutkan sebagai Hadits. Lebih-lebih di bulan Rabi’ul Awwal, atau ketika mereka memperingati Maulid Nabi SAW, suatu acara yang asalnya bikinan kaum Syi’ah itu. 

Ahli Hadits Syeikh Nasiruddin Al-Albani rahimahullah (wafat Jumadil Akhir 1420H) menjelaskan, “Laulaaka lamaa kholaqtul aflaak itu statusnya adalah hadits maudhu’ (palsu). As-Shaghani menyatakannya dalam kitab Al-Ahaditsul Maudhu’ah (Hadits-hadits palsu) halaman 7. Ibnu Asakir juga meriwayatkan hadits serupa yang telah dikeluarkan oleh Ibnul Jauzi dalam kitab Al-Maudhu’at (hadits-hadits palsu) seraya memastikan sebagai hadits maudhu’ (palsu). 

      Hermeneutika, Metode Tafsir dari Mitos Yunani, Diadopsi Pihak Yahudi – Kristen Berujud Metode Menafsirkan Bible, Menimbulkan Pecah belah di Kristen, tapi anehnya kini Diusung oleh Orang-orang tertentu ke Islam, bahkan Diajarkan di Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir Hadits di UIN (Universitas Islam Negeri, dulu IAIN –Institut Agama Islam Negeri) Jakarta dan UIN Jogjakarta.

Dari Tradisi Bible

    HERMENEUTIKA  secara bahasa punya makna menafsirkan. Filsuf Aristoteles pernah menggunakan istilah ini untuk judul kitabnya, Peri Hermeneias. Kitab itu lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Latin menjadi De Interpretationne dan kedalam bahasa Inggris, On the Interpretation. Aristoteles tidak membahas teks atau membuat kritik atas teks. Tapi, ia hanya mengupas peran ungkapan dalam memahami pikiran. Kata benda, kata kerja, ungkapan, dan kalimat yang berkait dengan bahasa menjadi bagian kajiannya.

     Dalam perkembangannya, hermeneutika tak lagi dipahami sekadar makna bahasa, tetapi makna bahasa dan filsafat. Para teolog Yahudi dan Kristen menggunakan hermeneutika untuk memahami teks-teks Bible. Tujuannya, untuk mencari nilai kebenaran Bible tersebut. Para teolog dari kalangan Yahudi dan Kristen mempertanyakan, apakah Bible itu kalam Tuhan atau kalam manusia? Ini karena banyaknya versi Bible dengan pengarang yang berbeda. Ketika hermeneutika dipakai untuk menafsirkan Al-Quran, persoalannya menjadi lain. Soalnya, Al-Quran, oleh umat Islam, dipahami secara bulat sebagai kalam Ilahi.Karena kalam Ilahi, ada hal-hal yang bisa dipahami dan dimengerti, ada juga yang belum bisa dijangkau oleh akal pikiran manusia. Bila menemukan hal yang terakhir itu, sikap umat Islam adalah mengimaninya.

     Lafal Hermeneutika adalah derivasi (musytaq) dari Bahasa Yunani dari akar kata hermeneuin, artinya menafsirkan. Al-Farabi mengartikannya dengan lafal Arab al-ibaroh (ungkapan). Hermeneias dimaknakan oleh Aristotle dalam karyanya, Kategoriai, bermakna pembahasan tentang peran ungkapan dalam memahami pemikiran, juga tentang satuan-satuan bahasa seperti kata benda, kata kerja, kalimat, ungkapan (proposition) dan lain-lain yang berkaitan dengan tata bahasa. Jadi semula, Hermeneutika hanyalah melulu mengenai makna bahasa semata. Kemudian Hermeneutika berubah dari makna bahasa ke makna teologi Yunani, kemudian teologi Yahudi dan Kristen, kemudian kini ke makna istilah filsafat, dan anehnya diusung oleh sebagian orang ke Islam.

     Tokoh utama pengusung hermeneutika di dunia Islam adalah Nasr Hamid Abu Zayd (Mesir) yang telah divonis murtad oleh Mahkamah Agung Mesir 1996, juga Arkoun dari Afrika Utara yang kini di Eropa, serta Fazlur Rahman yang harus hengkang dari Pakistan ke Chicago Amerika, guru Nurcholish Madjid dan lainnya. Kalau di Indonesia pengagum teori hermeunetika itu di antaranya adalah rector UIN Jogjakarta Amin Abdullah dengan rekan-rekannya di JIL. Hermeneutika sendiri telah diajarkan di UIN Jakarta dan UIN Jogjakarta . The New Encyclopedia Britanica menulis, bahwa hermeneutika adalah studi prinsip-prinsip general tentang interpretasi Bible (the study of the general principle of biblical interpretation).

     Tujuan dari hermeneutika adalah untuk menemukan kebenaran dan nilai-nilai dalam Bible. Dari mitos Yunani, Hermeneutika itu sendiri dari nama apa yang mereka sebut Dewa Hermes yang bertugas membawakan pesan-pesan Dewa Zeus kepada manusia. Hermes dianggap sebagai anak Dewa Zeus dan Maia (ini keyakinan syirik). Hermes sang anak dewa ini dianggap sebagai penafsir, sebab pesan-pesan itu masih dalam bahasa langit dan perlu perantara yang bisa menafsirkan dan menerjemahkan ke dalam bahasa bumi. Dari fungsi dan peran inilah hermeneutika mulai mendapatkan makna baru sebagai sains atau seni menafsir.

     Hermeneutika ini berperan menjelaskan teks seperti apa yang diinginkan pembuat teks. Maka mengharuskan tiga komponen: teks, penafsir, dan penyampaian kepada pendengar/ pembaca. Yunani, masyarakatnya tidak percaya nabi ataupun wahyu, namun percaya pada mitos-mitos dan syair-syair terutama syair Homer dan Hesoid. Penafsiran mitologi dan syair itu tergantung subyektivitas penafsirnya dan kondisi politik keagamaan yang berlaku.

Hermeneutika itu dipengaruhi oleh tiga lingkungan yang secara pandangan Islam sangat bertentangan, yaitu lingkungan kepercayaan: (1) Yunani yang mitologis (syirik)

(2) Yahudi dan Kristen yang maghdhub dan dhoollin (yang setiap umat Islam sholat setiap roka’atnya selalu membaca Al-Fatihah yang akhirnya memohon kepada Allah swt agar dijauhkan dari jalan orang-orang yang maghdhub dan dhoollin itu, lalu disunnahkan membaca aamien, semoga Allah mengabulkan).

(3) Eropa yang laa diini, sekuler dan mau melepaskan diri dari agama.

     Kemudian ketika Kristen mengadopsi hermeneutika maka terjadi perpecahan antara yang menganut penafsiran literal dan penganut alegoris/ kiasan.Pihak Kristen Protestan memakai lietaral dengan semboyan Sola Scriptura, bahwa Bible itu sendiri telah merupakan petunjuk yang cukup jelas untuk memahami Tuhan. Sedang Katholik Roma melaui Konsili Trent (1545) menolak prinsip Protestan itu dan mendukung teori dua sumber keimanan dan teologi Kristen yakni: Bible dan Tradisi Kristen.

Dalam Kristen, kitab sucinya itu sendiri mengalami problem-problem:

(1) problem otentisitas teksnya

(2) problem bahasanya

(3) problem kandungannya Di samping itu, kitab sucinya itu sendiri mengandung pula keterangan hal-hal yang ghaib.

     Sementara itu masyarakat Barat adalah rasional dan tak percaya hal ghaib, namun bukan berarti tak ada takhayul. Lalu hermeneutika itu untuk menjembatani probema antara teks yang di antara isinya ada hal-hal ghaib, dengan masyarakat yang mengandalkan rasionalitas, tak mau mengakui yang ghaib. Akhirnya para pemakai hermeneutika mengalami kebingungan, apakah mau mengikuti teks Bible yang sifatnya ada keghaibannya atau ikut masyarakat Barat yang tak percaya ghaib alias rasionalitas. Sampai abad 17, Protestan dan Katholik masih berpihak kepada teks Bible, sehingga menolak penemuan Johanes Kepler (1571-1630) dan Galelio Galilie (1569-1624). Jadi sampai awal abad pertengahan, Hermeneutika masih pada sangkar teologi Kristen dan di bawah pengaruh mitologi Yunani. Ketika teks bible sendiri mulai digugat dan otoritas gereja mulai goyah, pengaruh pandangan hidup ilmiah dan rasional Barat mulai muncul membawa hermeneutika kepada makna baru yang filosofis.

     Hermeneutika bukan berasal dari tradisi pengkajian dan pemahaman Bible, tapi metode asing yang diadopsi untuk merekayasa teks Bible yang menghadapi problem orisinalitas. Ketika hermeneutika masuk dan membawa makna baru yang filosofis, artinya percaturan problem yang dihadapi berupa pemecahan problem antara isi kandungan Bible yang mengandung mitos dan hal ghaib, dengan tradisi Barat yang rasionalistis tak percaya ghaib, bisa dianggap bahwa tradisi Barat sama dengan telah bisa menundukkan Bible itu sendiri lewat hermeunetika. Meskipun demikian, bukan berarti hermeneutika falsafi ini satu, namun banyak macamnya. Masalahnya, hermeneutika falsafi itulah yang diusung oleh orang-orang yang mengaku Islam untuk menafsiri al-Qur’an, As-Sunnah, bahkan Fiqh dan ajaran-ajaran Islam pada umumnya.

Contoh kerancuan ketika hermeneutika diusung orang ke Islam Hermeneutika falsafi itu bermacam-macam. Kalau diambil salah satunya berarti menolak yang lain, dan itu kalau untuk mengkaji / menafsiri Al-Qur’an, berarti telah masuk pula pada “madzhab hermeneutika” tertentu, yang artinya tidak akan obyektif pula.

    Dr Ugi Suharto dosen di International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) IIUM Kuala Lumpur secara cermat mengemukakan: Ambil contoh Fazlur Rahman. Dia lebih setuju kepada hermeneutika Betti ketimbang hermeneutika Gadamer. Namun dia juga tidak setuju dengan Betti yang mengatakan bahwa makna asli suatu teks itu terletak pada akal pengarang teks. Bagi Rahman, makna asli teks itu terletak pada konteks sejarah ketika teks itu ditulis. Kalau begitu, apa pula pendapat Fazlur Rahman mengenai kesimpulan filsafat hermeneutika yang mengesahkan adanya satu problem besar yang disebut “Hermeneutic circle”, yaitu sejenis lingkaran setan pemahaman obyek-obyek sejarah yang mengatakan bahwa “jika interpretasi itu sendiri juga berdasarkan interpretasi, maka lingkaran interpretasi itu tidak dapat dielakkan”. Akibatnya adalah, pemahaman seseorang tentang teks-teks dan kasus-kasus sejarah yang tidak akan pernah sampai, karena apabila seseorang dapat memahami konteksnya, maka konteks sejarah itu pun adalah interpretasi juga. Apabila hal ini diterapkan untuk studi Al-Qur’an, maka selama-lamanya Al-Qur’an tidak akan pernah dapat dimengerti dan dipahami. Kemudian Dr Ugi Suharto menandaskan: Di dalam Al-Qur’an ada ayat-ayat yang muhkamat, ada ushul ajaran Islam, ada hal-hal yang bersifat tsawabit, semua ayat-ayatnya adalah qoth’iy al-tsubut al-wurud. Dan bagian-bagiannya ada yang menunjukkan qoth’iy al-dilalah ada perkara-perkara yang termasuk dalam al-ma’lum min al-din bi al-dhoruroh.

     Ada sesuatu yang ijma’ mengenai al-Qur’an, dan ada yang difahami sebagai Al-Qur’an yang disampaikan dengan jalan mutawatir, yang semuanya itu dapat difahami dan dimengerti oleh kaum Muslimin dengan derajat yakin bahwasanya itu adalah ajaran Al-Qur’an yang dikehendaki oleh Allah. Apabila filsafat hermeneutika digunakan kepada Al-Qur’an, maka yang muhkamat akan menjadi mutasyabihat, yang ushul menjadi furu’, yang tsawabit menjadi mutaghoyyarot, yang qoth’iy menjadi dhonniy, yang ma’lum menjadi majhul, yang ijma’ menjadi ikhtilaf, yang mutawatir menjadi ahad, dan yang yaqin menjadi dhonn bahkan syakk. Alasannya sederhana saja, yaitu filsafat hermeneutika tidak membuat pengecualian terhadap hal-hal yang axiomatic di atas. (Islamia, vol 1, 2004, halaman 52). Lebih jelas Dr Ugi mengemukakan: Dalam posisi yang lebih ekstrim, filsafat hermeneutika telah memasuki dataran epistemologis yang berakhir pada pemahaman shophist yang bertentangan dengan pandangan hidup Islam.

    Filsafat hermeneutika berujung pada kesimpulan universal bahwa “all understanding is interpretation” dan karena interpretasi itu tergantung kepada orangnya, maka hasil pemahaman (understanding, verstehen) itupun menjadi subyektif. Dengan perkataan lain, tidak ada orang yang dapat memahami apapun dengan secara objektif. Selanjutnya, Ugi mengemukakan, “…Apabila semua ini dikaitkan dengan kajian al-Qur’an, maka akibatnya tidak ada kaum Muslimin yang mempunyai pemahaman yang sama mengenai Al-Qur’an, karena semua pemahaman itu tergantung pada interpretasi masing-masing.” (Islamia, vol 1, 2004, hlm 52).

    Sebagai kesimpulan, ulas Ugi, hermeneutika itu berbeda dengan tafsir ataupun takwil dalam tradisi Islam. Hermeneutika tidak sesuai untuk kajian al-Qur’an, baik dalam arti teologis atau filosofis. Dalam arti teologis, hermeneutika akan berakhir dengan mempersoalkan ayat-ayat yang dhahir dari al-Qur’an dan menganggapnya sebagai problematic. Di antara kesan hermeneutika teologis ini adalah adanya keragu-raguan terhadap mushaf Utsmani yang telah disepakati oleh seluruh kaum Muslimin, baik oleh Muslim Sunni ataupun Syi’ah, sebagai “tekstus recheptus” (teks yang telah disepakati).

    Keinginan Mohammad Arkoun, misalnya, untuk men-“deconstruct” Mushaf Utsmani adalah pengaruh dari hermeneutika teologis ini, selain dari pengaruh Jacques Derrida. Dalam artinya yang filosofis, hermenetika akan mementahkan kembali aqidah kaum Muslimin yang berpegang bahwa Al-Qur’an adalah Kalam Allah.

    Pendapat almarhum Fazlur Rahman yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah “both the word of God and the word of Muhammad” adalah kesan dari hermeneutika filosofis ini. Semua itu tidak menguntungkan kaum Muslimin dan hanya menurunkan derajat validitas Al-Qur’an seolah-olah sama dengan kitab yang lain. Analisis Dr Ugi Suharto itu sejalan dengan pendapat Roem Rowi guru besar tafsir IAIN Sunan Ampel yang tamatan Al-Azhar, Kairo, Mesir. “Menurut saya, cara memahami Al-Quran yang bukan dari umat Al-Quran perlu diwaspadai,” katanya. Menurut Roem, “cara penafsiran dengan memberi toleransi pada interpretasi keluar dari teks akan menimbulkan penyimpangan. kontroversinya, ada pemaksaan konteks kekinian dengan teks Al-Quran,” ujarnya. “Pemaksaan budaya pada teks-teks Al-Quran,” masih kata Roem, akan mengakibatkan adanya tabrakan frontal dengan maksud Al-Quran yang standar. Makanya, bisa terjadi fikih Indonesia dan fikih-fikih kedaerahan,” katanya. Roem lalu memberi contoh akibat dari tafsir hermeneutika ini. Yaitu “diperbolehkannya kawin campur dan hukum waris yang besarannya sama. Meskipun Al-Quran sudah memortal dengan berbagai dalil, tafsir hermeneutika menjebol kehendak teks,” ujar Roem.

     Contoh nyata Sekarang ada Gerakan Sistematis yang di antara kerjanya membuat keraguan tentang kemurnian Al-Qur’an. Gerakan itu secara aktif menulis di berbagai media massa termasuk internet, di samping menyebarkan penghujatan akan kemurnian Al-Qur’an lewat buku. Mereka bekerja secara sistematis, terprogram, terorganisir, bahkan lewat jalur intelektual tingkat akademis. Di antaranya mereka berada di lembaga-lembaga JIL (Jaringan Islam Liberal) dan Paramadina. Sedang jalur-jalur untuk menyebarkan faham tersebut di antaranya Majalah Syir’ah, Kantor Berita Radio 68H, Koran Jawa Pos dengan cabang-cabangnya (koran daerah sekitar 40-an koran), pencetakan buku, dan website Islamlib.com milik JIL. Sebagai contoh bukti, di antaranya:

(1) Tulisan Luthfi Assyaukanie dosen Paramadina Jakarta (Merenungkan Sejarah Al-Qur’an dimuat di website islamlib.com, 17 November 2003).

(2) Tulisan Luthfi Assyaukanie dosen Paramadina Jakarta (Sejarah Al-Qur’an Rejoinder, dimuat di islamlib.com, 8 Desember 2003, sebagai pembelaannya terhadap tulisan no.1).

(3) Tulisan Taufiq Adnan Amal dosen IAIN Makassar (Al-Quran Edisi Kritis, dimuat di islamlib.com, 28/10/ 2001, juga dimuat di buku tentang JIL) (4) Tulisan Taufiq Adnan Amal dosen IAIN Makassar (Al-Quran Antara Fakta dan Fiksi, dimuat di islamlib.com, 25/11/ 2001). (5) Buku karangan Taufiq Adnan Amal dosen IAIN Makassar berjudul Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an terbitan FKBA (Forum Kajian Budaya dan Agama), Jogjakarta, 2001. (6) Laporan Majalah Syir’ah, Pembaruan al-Qur’an ala Indonesia (Syir’ah Vol 2, No 3, tanggal 25 Januari- 25 Februari 2002). Dalam laporan itu dikutip pendapat Taufik Adnan Amal, di antaranya sebagai berikut: “Berdasarkan temuan kontemporer yang diangkat beberapa pemikir terkemuka Timur Tengah, terdapat salah satu ayat yang tidak berbunyi “innad dina ‘indallah al-Islam” tetapi “innad dina ‘inda Allah al-hanifiyyah”.

“Pada versi pertama, kata Islam kan dimaknai sebagai yang bersifat antropologis atau sekadar Kartu Tanda Beragama (KTB) yang dari sini muncul klaim bahkan menyalahkan agama yang lain ataupun berbuntut kebencian dan pertikaian antara agama. Yang kedua, kata al-hanifiyyah yang berarti sikap kepatuhan dan kepasrahan lebih menunjukkan wajah Islam yang toleran dan damai, dan ini sangat kontekstual dengan kondisi masyarakat kita saat ini,” ungkapnya. Walhasil, Mushaf al-Qur’an yang menjadi pegangan umat Islam secara luas termasuk yang disosialisasikan Depag sejak 1984 tidak lain adalah Mushaf hasil kodifikasi Khalifah Utsman. Dan apakah upaya Departemen Agama ini akan tidak berefek negatif bagi umat Islam seperti terjadi pada masa Utsman? Bisa dilihat pula contoh nyata akibat mengusung hermeneutika di antaranya: Buku Fiqih Lintas Agama terbitan Paramadina Jakarta 2003.

     Islam liberal ingin menjadikan kitab suci Al-Qur’an seperti kitab injil yang ditulis dengan berbagai bahasa. Kutipan: “Dalam menajam komitmen toleransi dan pluralisme fiqh, diperlukan hermeneutika yang setidaknya bisa melakukan perubahan yang sangat mendasar dalam tradisi fiqh klasik.

Pertama: Mengimani teks sebagai produk budaya. Teks dan budaya adalah dua mata uang logam yang tidak bisa dipisahkan. Tatkala bicara tentang teks, sebenarnya bicara tentang budaya, juga sebaliknya. Karenanya, perlu dilakukan dekontruksi keyakinan teologis dan eksistensi teks sebagai wahyu Tuhan, menjadi wahyu yang dibentuk dan disempurnakan oleh budaya.

Kedua: Mengimani sebagai wahyu progresif sehingga tidak menjadi Ideologis dan dijadikan alat justifikasi kekuasaan politik. Apabila terdapat pertentangan antara teks dan problem kemanusiaan, maka dengan sendirinya teks tidak dapat dipergunakan.

Ketiga: Mengimani adanya paradigma emansipatoris yang sejalan dengan komitmen wahyu, seperti Al Qur’an sebagai teks terbuka, kesetaraan, kemanusiaan, pluralisme, pembebasan, kesetaraan, keadilan gender, tidak diskriminatif.

Tanggapan: Pernyataan pertama, kedua dan ketiga yang dikutip di atas adalah pernyataan iblis yang mensejajarkan antara teks al Qur’an dan budaya manusia seperti dua mata uang logam yang tidak bisa dipisahkan. Teks Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw melalui malaikat Jibril, sedangkan budaya adalah hasil dari budi dan daya manusia. Teks Al-Qur’an adalah kalamullah bersifat Ilahiyyah sedangkan budaya adalah hasil budi daya manusia yang bersifat duniawi. Saya kira, hanya para budak Orientalis serta budak kuffar saja yang berani menyamakan antara teks al Qur.an dengan budaya manusia, apalagi berani mengatakan bahwa al Qur’an sebagai teks terbuka yang dibentuk dan disempurnakan oleh budaya.. Para budak Orientalis ini bukan tidak tahu/ tidak pernah membaca ayat Al Qur’an yang berbunyi: Artinya: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat KU dan telah Kuridloi Islam itu menjadi agama bagimu ( Al Maidah ayat 3 ).

(Demikian tanggapan M Amin Djamaluddin, ketua LPPI di Jakarta). Akar masalah Hermeneutika itu sendiri dari warisan mitos Yunani. Hermeneutik itu ketika masuk ke Yahudi dan Kristen untuk menafsiri Bible menimbulkan kekacauan. Hasil dari kekacauan yang ditimbulkan hermeneutic adalah kemenangan tradisi Barat yang sekuler dan mau lepas dari agama. Kemenangan tradisi Barat itu membawa hermeneutic menjadi falsafi, dan muncul berbagai corak hermeneutic falsafi. Setelah muncul hermeneutic berbagai ragam falsafi, dan semuanya itu keluar dari kandang mitos Yunani, ke Yahudi- Kristen, dan kemudian berpihak ke tradisi Barat yang laa diinii alias sekuler dan mau lepas dari agama, maka ketika orang dari kalangan Islam mengadopsi hermeneutika yang falsafi jenis manapun tetap tidak akan cocok dengan Islam. Demikian pula bila mengambil hermeneutika yang memihak Yahudi -Kristen, sama sekali tidak akan menambah apa-apa terhadap Islam kecuali kerusakan. Pengadopsian hermeneutic ke Islam dengan dalih untuk ini dan itu, tidak lain hanya akan menirukan penghancuran aqidah yang telah dialami oleh Yahudi dan Kristen dan dimenangkan oleh Barat.

    Kini telah digencarkan pembelajaran teori hermeneutic di IAIN/ UIN di Indonesia, dipelopori rector IAIN /UIN Jogjakarta, Amin Abdullah dan sampai mendatangkan dedengkotnya dari Mesir, Nasr Hamid Abu Zayd yang sudah divonis murtad oleh Mahkamah Agung Mesir. Kehadiran Nasr Hamid Abu Zayd di Jakarta itu dielu-elukan oleh pihak-pihak IAIN, UIN, JIL, Lakspedam NU, ICIP (selaku pengundang, lembaga yang diketuai Syafi’I Anwar bekas pemimpin redaksi majalah (yang sudah mati) Ummat (majalah orang-orang Republika dan kelompok Syi’ah plus sekuler di Jakarta), yang lembaga ICIP itu salah satu dari 44 lembaga di Indonesia yang dibiayai The asia Foundation yang berpusat di Amerika (baca buku Hartono Ahmad Jaiz, Jejak Tokoh Islam dalam Kristenisasi, Darul Falah, Jakarta, 2004).. Nasr Hamid Abu Zayd yang divonis murtad di Mesir dan isterinya pun difasakh itu kemudian jadi guru besar di Leiden Belanda, dan diusung untuk ceramah di berbagai tempat di Indonesia September 2004, masih pula diulas-ulas di berbagai media massa. Di antara bahaya hermeunetic, telah disandang oleh Nasr Hamid Abu Zayd yang mengatalkan bahwa Al-Qur’an adalah muntaj tsaqofi, produk budaya.

    Di Indonesia, muncul buku Fiqih Lintas Agama oleh Paramadina pimpinan Nurcholis Madjid dengan dana dari The Asia Foundation, 2003. Isinya mengatasnamakan hukum Islam, namun menentang ayat-ayat terutama ayat yang menegaskan hanya Islamlah agama di sisi Allah, larangan menikah dengan musyrikin/musyrikat dan kafirin, serta larangan waris mewarisi antara muslim dan kafir. Semuanya itu ditolak. Bahkan lebih gila lagi, buku Draf Kompilasi Hukum Islam yang disusun Tim Gender Departemen Agama pimpinan Dr Musdah Mulia (wanita) itu menentang hukum-hukum Islam, di antaranya lelaki pun dikenai iddah 130 hari, poligami dilarang, tapi nikah mut’ah boleh, waris lelaki dan perempuan sama, dan mahar juga dibayar oleh wanita, sedang hak talak juga dipegang wanita pula.

    Sementara itu dosen ulumul Quran di IAIN Alauddin Makassar, Taufiq Adnan Amal, menulis buku Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an, isinya meragukan kemurnian mushaf Utsmani, lalu dikemukakan bahwa ada penemuan di Timur tengah, ayat Innad dien indallohil Islam itu dengan lafal innad diina indallohi alhanifiyyah. Ini tanpa sumber, tetapi langsung dikomentari di Majalah JIL, Syir’ah, bahwa ayat hanifiyyah itu lebih sesuai dengan semangat beragama yang pluralis sekarang.

Kesimpulan: 1. Hermeneutika tidak dibutuhkan oleh Islam, karena Islam telah cukup dengan ilmu tafsir, ulumul Qur’an, dan ilmu-ilmu perangkat lainnya, bahkan secara ujud nash (Al-Qur’an) dan matan hadits tidak mengalami problem apa-apa (tanpa kekurangan perangkat ilmu untuk mengkajinya, karena sudah terbentuk secara rapi sejak dini, bukan seperti Bible). Orang-orang yang mengusung hermeneutika ke dalam ilmu Islam sudah ada yang dinyatakan murtad oleh Mahkamah Agung Mesir, yakni Dr Nasr Hamid Abu Zayd terutama karena karyanya, mafhum al-nashsh, yang dia menganggap Al-Qur’an sebagai muntaj tsaqofi, produk budaya.

Para pengusung hermeneutika di Indonesia telah memproduk karya-karya yang menjauhkan umat Islam dari agamanya, bahkan meragukan Al-Quran. Buku Fiqih Lintas Agama, buku Draf Kompilasi Hukum Islam, dan buku Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an adalah produk-produk yang membahayakan bagi aqidah umat Islam. Pengajaran hermeneutika di UIN Jakarta dan Jogjakarta (yang mungkin juga di IAIN lainnya) bisa dinilai sebagai penanaman racun kepada generasi muda Islam, yang akan membahayakan bagi pemahaman Islam masa depan.

Pengajaran hermeneutika, apapun jenisnya, apakah itu yang masih mitologi Yunani, atau yang sudah diadopsi Kristen, atau pun yang falsafi, semuanya bukan sekadar tidak diperlukan oleh Islam, namun justru akan merancukan pemahaman Islam, bahkan menghancurkan Islam secara sistematis langsung ke sumber murninya, yaitu wahyu Allah SWT yang dinilai sebagai sekadar teks biasa, dan boleh ditafsiri siapa saja, takkan ada kesamaan penafsiran satu sama lain. Akibatnya, buyarlah Islam ini. Hermeneutika dan Dzatu Anwath Nasr Hamid Abu Zayd menganggap Al-Qur’an sebagai muntaj tsaqofi, produk budaya. Dia juga mengusung metode penafsiran Bible yakni hermeneutika, namun anehnya metode yang sama sekali tak ada kaitannya dengan Al-Qur’an itu diajarkan di beberapa UIN dan IAIN untuk menafsiri Al-Qur’an.

     Padahal Nabi Muhammad saw telah marah kepada Umar bin Khatthab ra ketika membawa selembar kertas berisi Taurat, dan Nabi saw menegaskan bahwa wahyu yang beliau bawa lebih suci, bahkan seandainya Musa as masih hidup pun tidak ada kelonggaran lagi kecuali mengikuti Nabi Muhammad saw. Itu saja tentang wahyu (Taurat), bukan sekadar metodenya untuk memahami teksnya yang mereka sebut hermeneutik yang diambil dari nama dewa Yunani, Hermes, dalam kepercayaan kemusyrikan. Kenapa sudah ada Al-Qur’an, ulumul Qur’an, tafsir, dan ilmu tafsir, tapi orang-orang liberal itu masih mau menjejalkan hermeneutik yang ternyata tidak bisa menyelesaikan problem teks Bible? Aneh! Bagai Bani Israel zaman Nabi Musa as yang diberi makanan oleh Allah SWT dari langit berupa manna dan salwa, tetapi mereka malah menginginkan brambang bawang dan adas yang bau-bau itu. Bani Israel generasi moyang rupanya sikap buruknya diadopsi oleh antek-antek Bani Israel zaman sekarang. Juga sebagaimana umat Nabi Muhammad saw sudah diberi ajaran Tauhid yang murni, bersih, namun ada yang minta dibuatkan kepercayaan syirik, yaitu kepercayaan kepada dzatu anwath (pohon tempat mengalungkan senjata dengan kepercayaan nantinya akan menang perang akibat pengalungan senjata di pohon itu) sebagaimana yang dilakukan orang musyrik.

     Dalam hadits diriwayatkan: Dari Abu Waqid Allaitsi bahwa Rasulullah saw ketika keluar ke Hunain melewati pohon milik musyrikin yang dikatakan baginya dzatu anwath, mereka (musyrikin) menggantungkan senjata-senjata mereka di atasnya. Lalu para sahabat berkata, Ya Rasulallah, buatkan untuk kami dzata anwath sebagaimana mereka memiliki dzatu anwath. Maka Nabi saw bersabda: “Subhanalloh, ini seperti kaum Musa berkata, ‘buatkan untuk kami tuhan sebagaimana mereka memiliki tuhan-tuhan’. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, pasti benar-benar kamu akan mengikuti jalan orang sebelum kamu.” Abu Isa berkata, ini hadits hasan shahih. (HR At-Tirmidzi).

    Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi syarah Sunan At-Tirmidzi, hadits itu dijelaskan: Ketika Nabi saw keluar, artinya dari Makkah –sebagaimana dalam riwayat Ahmad—ke Hunain, tempat antara Thoif dan Makkah. Dzatu Anwath yaitu nama pohon itu sendiri yang orang musyrikin mengalungkan senjata-senjata padanya dan beri’tikaf (duduk khusyu’) di sekitarnya, lalu para pengikut Nabi saw memintanya untuk membuatkan hal yang sama dengannya untuk mereka. Maka Nabi saw mencegah mereka dari yang demikian itu. Dalam hadits Abi Sa’id, menurut Al-Bukhori: “Pastilah kalian benar-benar akan mengikuti jalan-jalan orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, dan selengan-demi selengan, sehingga seandainya mereka masuk lubang biawak pastilah kalian mengikuti mereka.” Kami bertanya, wahai Rasulalloh, Yahudi dan Nasrani?” Beliau bersabda: “Siapa lagi?” (kalau bukan mereka)? (HR Al-Bukhari).

    Dan diriwayatkan oleh Al-Hakim dari Ibnu Abbas, pada akhirnya: “Dan sampai-sampai seandainya salah satu dari mereka menyetubuhi isterinya di jalan pasti kamu sekalian mengerjakannya (pula).” Al-Munawi berkata, sanadnya shohih. Lafal as-sunnah artinya jalan baik ataupun buruk. Maksudnya di sini adalah jalan ahli ahwa’ wal bida’ / hawa nafsu dan bid’ah yang mereka ciptakan dari arah diri mereka sendiri setelah nabi-nabi mereka berupa perubahan agama mereka dan penyelewengan kitab mereka sebagaimana telah datang atas Bani Israil bagai peniruan sandal dengan sandal. An-Nawawi berkata: Maksudnya adalah mencocoki dalam maksiat-maksiat dan penyelewengan-penyelewengan (mukholafat) bukan dalam kekufuran, dan dalam hal ini adalah mu’jizat yang nampak bagi Rasulullah saw Maka sungguh telah terjadi apa yang beliau saw khabarkannya. Hadits ini hasan shahih dan dikeluarkan pula oleh Ahmad dalam musnadnya.

Hadits Abu Hurairah diriwayatkan Al-Bukhari, marfu’ / periwayatannya sampai pada Nabi saw: “Tidak datang qiyamat sehingga ummatku mengambil dengan pengambilan generasi-generasi (qurun) sebelumnya sejengkal demi sejengkal dan selengan demi selengan.” Maka ditanyakan, wahai Rasulullah, seperti Parsi dan Romawi? Beliau menjawab: “Dan siapa lagi manusia kecuali mereka?” Dalam kasus orang-orang liberal mengambil hermeneutika untuk diadopsi sebagai metode tafsir teks ayat dalam Islam, bahkan diajarkan di beberapa IAIN dan UIN, ini benar-benar meniru orang-orang di luar Islam.

Pertama hermeneutika itu sendiri dari Yunani lalu dimasukkan dalam mitologi Yunani, kemudian diadopsi ke Kristen dengan teologi Kristen, lalu diadopsi Barat dengan filsafat Barat menjadi hermeneutika falsafi. Setelah Barat mampu menundukkan agama Kristen dengan hermenetika falsafi itu kemudian hermeneutika falsafi inilah yang diadopsi oleh orang-orang yang mengaku Islam di antaranya Fazlurrahman orang Pakistan yang hengkang dari negerinya ke Chicago Amerika (guru Nurcholish Madjid dan teman-temannya), Arkoun orang Afrika Utara yang hengkang ke Eropa, Nasr Hamid Abu Zayd yang telah divonis murtad oleh Mahkamah Agung Mesir 1966 lalu hengkang ke Belanda, dengan pengagum-pengagum di Indonesia seperti Amin Abdullah rector UIN Jogjakarta dan orang-orang liberal yang gerah dengan jasa para ulama tafsir di dunia Islam hingga ingin menggantinya model penafsiran yang mengikuti metode hermeneutika yang telah terbukti membuat kekacauan di Kristen itu sendiri.

    Di Kristen, dengan pakai metode hermeneutika itu maka telah terjadi kekacauan yaitu pecahnya orang Kristen jadi dua: Kristen dan Katolik. Kristen memakai hermeneutika literal (hakiki/ makna harfiyah sebenarnya) berhadapan dengan Katolik yang cenderung pakai hermeneutic alegoris alias majazi/ kiasan. Lalu dua-duanya, Kristen dan katolik itupun dilibas oleh Barat yang pada dasarnya sekuler (laa diini) dan mau melepaskan diri dari agama. Pelibasan Barat terhadap Kristen dan Katolik itupun pakai hermeneutic yaitu hermeneutic falsafi model Barat yang sebenarnya anti agama itu. Barat yang telah berhasil melibas agama Katolik dan Kristen pakai hermeneutika falsafi itulah yang kini punya agen-agen dan kaki tangan di dunia Islam untuk melibas Islam lewat hermeneutika sebagaimana yang telah dilakukan Barat. Maka para pengekor Barat di kalangan Muslimin itu pada dasarnya adalah orang-orang berbahaya yang telah disinyalir oleh Nabi saw, dalam kasus di atas adalah orang-orang yang menawar untuk minta dibuatkan dzatu anwath sebagaimana milik musyrikin. Namun Nabi saw menolaknya dengan ucapan sumpah yang tegas, diibaratkan pengikut Nabi Musa as yang minta dibuatkan tuhan sebagaimana orang-orang musyrikin memiliki tuhan-tuhan.

    Di samping itu, para agen Barat itu sebagai orang-orang yang –disadari atau tidak– akan bertugas melibas Islam sebagaimana kesuksesan Barat melibas agamanya. Akhirnya, otak dan hawa nafsu merekalah yang dijadikan tuhan, dan itu dalam Islam disebut sebagai orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Barat yang menjadikan hawa nafsu dan otaknya sebagai tuhannya itu mereka berkendaraan teori antrophosentrisme, yaitu manusia inilah yang jadi pusat pertimbangan. Ketika diaduk dengan humanisme, lalu dimunculkan secara internasional dengan istilah apa yang mereka sebut HAM (hak-hak asasi manusia).

    Dalam berkendaraan politik maka mereka memakai apa yang mereka sebut demokrasi, yang kalau dipakai oleh Muslimin, lalu di kala pemilihan umum tahu-tahu yang menang partai Islam, maka justru hasil pemilu itu ditolak, bahkan partai Islamnya itu sendiri dibubarkan. Contohnya adalah kasus di Al-Jazair dengan partai Islam FIS (Front Islamique du Salut/ Front Penyelamatan Islam) atau Jabhatul Inqodhil Islami. Setelah FIS menang pemilu maka justru kemenangannya tak diakui, bahkan ribuan tokoh dan anggota FIS diuber-uber ditangkapi. Kemudian FIS itu sendiri dilarang tahun 1992 Dan kasus pemilu di Turki yang dimenangkan Partai Islam Refah, tapi justru akhirnya Partai Refah itu sendiri dilarang tahun 1998. Semua itu peran Barat di dunia ini sangat campur tangan. Sehingga dunia ini ditekan untuk mengikuti hawa nafsu mereka. Dan itulah orang-orang yang menuhankan hawa nafsunya dan mengejar kepentingan dunia dengan mengikuti nafsu rendahnya. Orang model itu menurut penilaian Allah swt telah sesat dan diumpamakan bagai anjing. Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS Al-Jaatsiyah: 23).

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (QS Al-A’raaf: 176).

    Pengusung Hermeneutika, Nabi Palsu Musailamah Al-Kaddzab, Penyeleweng, Munafiqin, dan Ruwatan Para agen Barat yang dalam hal ini mengusung hermeneutika untuk dijadikan alat menghalau Islam dari pemahaman yang benar, bila ditilik dari rekadaya orang yang mengaku Islam zaman Nabi saw dan masa Abu Bakar Shiddiq adalah para pengikut Nabi Palsu Musailamah Al-Kaddzab. Satu sisi mereka masih mengaku Islam, tetapi satu sisi lainnya mereka mengikuti nabi palsu sang pendusta. Maka dikenal syahadat mereka adalah wa asyhadu anna muhammadan wa musailamatan rosulaa (dengan lam alif) Lloh, maksudnya bersaksi bahwa Muhammad dan Musailamah adalah dua orang utusan Alloh. Atau justru bagai pengusung kebatilan yang tidak terang-terangan hingga tidak dicegah oleh khalifah dan kaum Muslimin, berbeda dengan Musailamah Al-Kaddzab dan pengikutnya kaum murtadin yang diperangi oleh Khalifah Abu Bakar dengan 10.000-an tentara Muslim saat itu. Atau bagaikan munafiqin yang menyembunyikan kekufuran sambil merusak Islam. Atau orang-orang yang mengusung kesesatan karena terpengaruh oleh filsafat. Itu semua dijelaskan tipe-tipe atau karakternya oleh Imam Ibnu Taimiyyah.

    Imam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya, Bughyatul Murtad, menjelaskan sebagai berikut: Dan telah diketahui bahwa pengikut-pengikut Musailamah Al-Kaddzab (sang pendusta), Al-Aswadul ‘Anasi, Tholhah al-Asadi, dan Sajjah, mereka adalah orang-orang murtad dan telah diperangi oleh para sahabat Rasulullah. Hanya saja Musailamah sesungguhnya hanyalah mendakwakan diri bersekutu dalam kenabian, tidak mengaku sebagai tuhan, dan dia tidak membawa Al-Qur’an merusak tauhid tetapi membawa perkataan yang mengandung apa yang dia akui kebersamaan dalam kerasulan dan membawa sajak-sajak berupa kalimat-kalimat yang tak berguna. Oleh karena itu Abu Bakar berkata kepada sebagian Bani Hanifah (para pengikut Musailamah Al-Kaddzab) dan dia minta mereka membaca sebagian Qur’an Musailamah. Ketika mereka membacakannya, Abu Bakar berkata: Celaka kalian, ke mana dia menghilangkan akal kalian? Sesungguhnya kalam/ ucapan (sajak Musailamah) ini tidak keluar dari Tuhan. Yang demikian itu contohnya ucapan Musailamah:

“Wahai kodok binti dua kodok, sucikanlah apa yang kau sucikan.

Tidak ada air yang kau keruhkan dan tidak ada peminum yang kau larang.

Kepalamu di air dan pantatmu di tanah.”

Dan ucapan Musailamah: “Demi petani yang menanam tanaman, demi pemanen yang memanen panenan, demi pembuat adonan yang membuat adonan, demi tukang roti yang membuat roti dengan lemak dan minyak samin. Sesungguhnya bumi ini antara kami dan Quraisy adalah dua belah, tetapi Quraisy adalah kaum yang tidak adil.”

    Dan ucapan Musailamah:

“Demi gajah.

Tahukah kamu apa itu gajah?

Dia punya belalai yang panjang.

Sesungguhnya yang demikian itu dari ciptaan tuhan kami yang maha agung.”

Ketika Musailamah menulis kepada Rasulullah:

“Dari Musailamah Rasulullah kepada Muhammad Rasulullah. Amma ba’du.

Sesungguhnya aku bersekutu dalam satu urusan besertamu.”

Lalu Nabi saw menulis, beliau berkata: “Dari Muhammad Rasulullah kepada Musailamah Al-Kaddzab (sang pendusta).

Amma ba’du, sungguh seandainya kamu minta kepadaku putihnya ini maka aku tidak memberikannya kepadamu.”

(Lalu Ibnu Taimiyyah menjelaskan): Barangsiapa mendakwakan diri bahwa dia beriman kepada apa yang dikatakan mereka (orang-orang batil yang mengaku langsung bicara dengan Allah atau mengambil dari malaikat, — ini kembali ke halaman buku Ibnu Taimiyyah sebelumnya) walaupun mengikuti Rasul dalam syari’at-syari’atnya disertai bergabungnya pada Rasul dalam kesaksian yang demikian itu, lalu dia (si pengaku yang batil ini) berada di atas (derajat) Rasul dalam hakekat dan pengetahuannya kepada Allah karena dia (si batil) mengambil dari malaikat yang memberi wahyu kepada Rasul, maka tidak diragukan lagi bahwa ucapan ini lebih besar dustanya dibanding ucapan Musailamah Al-Kaddzab, tetapi mereka tidak menjadi golongan yang terlarang secara langsung dan tak diperangi oleh Muslimin, bahkan mereka menyepakati secara lahir bahwa tidak ada utusan (terakhir) selain Muhammad, dan kebanyakan pengikut kelompok ini tidak tahu bahwa itu adalah ucapan pemimpin mereka, kemudian di antara mereka ada kaum munafik yang tidak menampakkan hal itu kepada kalangan Muslimin, berbeda dengan Musailamah yang menampakkan dakwaan kenabiannya sehingga muadzinnya mengatakan: Asyhadu anna Muhammadan wa Musailamatan Rasuulaa Lloh (saya bersaksi bahwa Muhammad dan Musailamah adalah dua orang utusan Alloh).

     Selanjutnya Imam Ibnu Taimiyyah mengungkapkan: Di antara mereka ada orang yang batinnya lebih kafir dibanding musyrikin, lebih dari Ahli Kitab. Di antara mereka ada kaum yang membaca kitab-kitab yang menyimpan kekufuran itu secara terang-terangan, tetapi kadang-kadang mereka tidak memahami kekafiran yang ada di dalamnya. Telah berkata kepadaku syeikh mereka di diyar Mesir, ketika aku memberitahukannya apa yang ada di sebagian kitab ini seperti topic ini dan lainnya, maka dia berkata, ini kekufuran. Tetapi dia berkata kepadaku di majlis yang lain, kitab ini di sisi kami sudah 40 tahun, kami mengagungkannya dan pemiliknya pun mengagungkannya. Tidak ada yang menyatakan kepada kami musibah-musibah ini kecuali kamu.

     Di antara mereka ada kelompok yang kadang tidak bersengaja bohong tetapi tercampur kesesatan pada mereka karena mereka mengira bahwa Rasul tidak tahu hakekat, dan beliau hanyalah tahu ilmu amal yang tampak, dan kawan-kawan mereka dari kalangan yang terfilsafatkan bergabung dalam hal kesesatan itu mengenai hal-hal semacamnya, maka kamu dapati mereka tidak memegangi perkara-perkara ilmiah dan masalah-masalah khabariyah dari Alloh Ta’ala, nama-namaNya dan sifat-sifatNya berdasarkan Kalamullah dan Rasul-Nya. Inilah di antara pokok-pokok kesesatan yang terjadi pada kelompok itu atau di sebagian kelompok dari kalangan yang menyeleweng dan munafiqin.

    Aneka rupa jenis penyeleweng dan faham-fahamnya telah ada sejak dulu. Para penyeleneh yang dibicarakan di sini tampaknya menambah varian dalam model-model penyelewengan. Bisa mirip sana dan bisa pula mirip sini dan situ. Karena mereka memang mencomot dari mana-mana, sebagaimana Ulil Abshar Abdalla pernah mengaku mengais-ngais dari barat dan timur. Semua itu cukup dicakup dalam ayat: Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS Al-Maaidah: 50). Yang dikais-kais dari barat dan timur itu adalah pendapat-pendapat yang dilontarkan orang-orang kafir. Sedangkan Al-Qur’an telah memberikan pensifatan bahwa orang-orang kafir itu wali-walinya adalah thaghut/ syetan yang mengeluarkan dari cahaya kepada kegelapan. Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS Al-Baqoroh: 257).

     Mitos Yunani Hermeneutika dan Mitos Sini Ruwatan Sekadar contoh sesatnya mitos Yunani tentang Hermes (yang kemudian dijadikan nama metode hermeneutika) bisa kita bandingkan dengan sesatnya mitos dari Timur tentang Betoro Kolo (yang menjadi adat kemusyrikan bernama ruwatan). Hermes menurut mitos Yunani adalah dewa yang jadi utusan dewa-dewa untuk menyampaikan pesan ke bumi hingga dianggap sebagai penyampai dan penafsir pesan dewa-dewa. Hermes dianggap sebagai anak Dewa Zeus dan Maia. Selain sebagai penafsir pesan dewa-dewa, Hermes juga dewa pencuri dan penjudi. Namun kemudian dari nama dan tugas menyampaikan pesan itu kemudian dibuatlah metode hermeneutika bermuatan mitologi Yunani, lalu diadopsi Yahudi dan Kristen sebagai metode penafsir Bible, kemudian diusung oleh orang-orang tertentu yang mengekor ke Barat untuk dimasuk-masukkan ke Islam, untuk dijadikan metode penafsiran Al-Qur’an. Coba mitos tentang Hermes dari barat (Yunani) yang kemudian jadi metode hermenetika itu kita bandingkan dengan mitos dari timur tentang Betoro Kolo yang kemudian jadi upacara kemusyrikan ruwatan. Ruwatan Ruwatan itu kepercayaan non Islam berlandaskan ceritá wayang. Ruwatan artinyá upacará membebaskan ancaman Batoro Kolo, raksasá pemakan manusia, anak Batoro Guru/ rajá pará dewa. Batoro Kolo adalah raksasá buruk jelmaan dari spermá Batoro Guru yang berceceran di laut, setelah gagal bersenggamá dengan permaisurinya, Batari Uma, ketiká bercumbu di langit sambil menikmati terang bulan. Makanan Batoro Kolo adalah manusiá yang dilahirkan dalan kondisi tertentu, seperti kelahiran yang menurut perhitungan klenik akan mengalami sukerto atau menderita .Jugá yang lahir dalam keadaan ontang-anting, (tunggal, ) kembang sepasang, (kembar), sendang apit pancuran (laki, perempuan, laki), pendowo limo (5 laki-laki semua) dll. Itulah kepercayaan musyrik/ menyekutukan Allah SWT yang berlandaskan ceritá wayang penuh takhayyul, khurofat, dan tathoyyur (menganggap sesuatu sebagai alamat sial dsb).

Upacara ruwatan itu bermacam-macam, ada yang dengan mengubur sekujur tubuh selain kepala, atau menyembunyikan anak/ orang yang diruwat, ada yang dimandikan dengan air kembang dsb. Biasanya ruwatan itu disertai sesaji dan wayangan untuk menghindarkan agar Betoro Kolo tidak memangsa. Ruwatan itu dari segi keyakinannya termasuk tathoyyur, satu jenis kemusyrikan yang sangat dilarang Islam, dosa terbesar. Sedang dari segi upacaranya termasuk menyembah/ memohon perlindungan kepada selain Allah, yaitu ke Betoro Kolo, satu jenis upacara kemusyrikan, dosa terbesar pula. Nabi SAW bersabda:

“Thiyaroh adalah syirik/ menyekutukan Allah, thiyaroh adalah syirik” (HR Abu Dawud, dari Ibnu Mas’ud, marfu’).

Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu memohon kepada selain Allah, yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak dapat pula mendatangkan bahaya kepadamu, jika kamu berbuat (hal itu), maka sesungguhnya kamu, dengan demikian, termasuk orang-orang yang dhalim (musyrik)”. (QS Yunus:106).

     Sudah jelas, Al-Qur’an dan Al-Hadits sangat melarang kemusyrikan. Dan bahkan mengancam dengan adzab, baik di dunia maupun di akherat. namun kini kemusyrikan itu justru dinasionalkan. Maka perlu dibisikkan ke telinga-telinga mereka, bahwa sebenarnya lakon mereka tu menghadang adzab dan murka Allah SWT, di dunia maupun di akherat. Baik mitos yang dari barat dalam hal ini hermeneutika dari Yunani maupun dari timur, ruwatan agar tidak dimangsa Betoro Kolo, semuanya berupa kemusyrikan, di samping sama sekali tidak mutu. Maka tak mengherankan, para pengusungnya pun sebenarnya adalah orang-orang yang perlu dipertanyakan mutunya, di samping jelas kesesatannya.#

sumber : ada pemurtadan di IAIN; H Hartono Ahmad Jaiz.

Hakikat Iman

Posted: 18 Desember 2012 in Tak terkategori

     Sekedar mengaku beriman tentu berat, yang berat ialah membuktikan keimanan tersebut. Kedangkalan pemahaman tentang hakikat iman sering kali membuat seseorang salah dalam membuktikan keimanannya. Bahkan di antara mereka justru melakukan hal-hal yang bertolak belakang dengan tuntutan keimanan tersebut. Padahal keimanan mempunyai dua sisi yang tidak dapat dipisahkan sisi lahir dan sisi batin. Sisi lahiriyah Iman ialah ucapan lisan dan perbuatan anggota badan; sedangkan sisi batin ialah pembenaran dalam hati serta kepatuhan dan kecintaannya.

   Sisi lahiriyah iman tidak akan bermanfaat tanpa sisi batiniyahnya,meskipun dengan adanya sisi lahiriyah ini darah seseorang terpelihara, serta harta dan keluarganya terlindungi. Begitu juga sisi batiniya iman,ia pun tidak cukup tanpa sisi lahiriyahnya; kecuali jika sisi lahiriyah ini tidak bisa dipenuhi seseorang karena tidak mampu melakukannya,karena dipaksa agar tidak melakukannya, atau karena takut akan binasa bila melakukanya

     Maka dari itu meninggalkan ibadah lahir tanpa adanya alasan syar’i menunjukan rusaknya batin dan kehampaan hati pelakunya dari iman. Berkurangnya amal zhahir tersebut menunjukan berkurangnya iman. Sebaliknya kuatnya perbuatan lahit itu menunjukan kuatnya iman seseorang. Jadi Iman esensi Islam dan substansinya. Dan keyakinan adalah inti iman dan esensinya. Atas dasar itu setiap pengetahuan dan perbuatan yang tidak memperkokoh keimanan dan keyakinan berati ada yang salah di dalam pengetahuan dan perbuatan tersebut. Dan setiap keimanan yang tidak mendorong untuk melakukan amal perbuatan menunjukan ada yang tidak beres dalam keimanan tersebut.